Wanita Tangguh di Zaman Rasulullah

0
20

Sejak dulu hingga sekarang, peran perempuan tidak bisa dipisahkan dari perkembangan dan kelahiran sejarah peradaban umat manusia. Tercatat atau tidak, realita sejarah dunia Islam tidak akan melupakan kiprah perempuan-perempuan pilihan Allah yang turut berdakwah dan mengabdikan diri untuk umat, salah satu nama muslimah berpengaruh yang memiliki andil penting dalam dakwah Islam di era Rasulullah adalah Ummu Ummaroh. Beberapa dari kita mungkin ada yang baru mendengar nama Ummu Ummaroh, namun kisah perjuangannya Ummu Ummaroh di medan perang akan menggeser anggapan sumbang tentang “Islam yang mengekang perempuan”.

Ummu Ummaroh atau Nasibah binti Ka’ab al-Anshariyah  adalah sosok muslimah yang ikut berjihad di jalan Allah. Ia berasal dari Bani Mazim An-Najar, merupakan salah satu dari perempuan Madinah yang bersegera masuk Islam. Kiprah dan keberaniannya dimedan perang terbukti dengan aksi heroiknya yang ikut turun membela pasukan Islam dalam Perang Uhud yang terjadi di Bukit Uhud, 7 Syawal 3 H/ 22 Maret 625 M. Sekitar 700 pasukan tentara Muslim yang dipimpin Rasulullah SAW bertempur melawan 3.000 tentara kafir di bawah komando Abu Sufyan.

Pasukan tentara lawan berhasil memukul balik serangan tentara muslim. Tentara lawan pun berniat untuk membunuh Rasulullah. Melihat pasukan Muslim yang ketar-ketir, Ummu Ummaroh tak bisa tinggal diam, ia pun memilih terjun ke medan perang, dengan pedangnya ia menghadang para tentara lawan yang berniat membunuh Rasulullah Muhammad SAW.

”Siang itu, sambil membawa sekendi air, saya keluar menuju Uhud untuk menyaksikan pertempuran kaum Muslimin. Awalnya, tentara Muslim memenangkan pertempuran. Namun, ketika pasukan Islam mulai kalah, saya langsung terjun ke medan laga. Saya halau segala serangan yang datang ke arah Rasulullah dengan pedang saya,”kisah Ummu Ummaroh seperti dituturkan Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat.

Awalnya, Ummu Ummaroh bertugas sebagai perawat tentara yang terluka serta menyediakan minuman. Namun melihat kondisi para prajurit yang kocar-kacir membuat Ummu Ummaroh bangkit dan terjun medan laga, ikut berjuang melawan tentara lawan, semangat dan keberaniannya berkobar menyala-nyala, bersama pedangnya ia ingin bersuara bahwa perjuangan dakwah adalah milik dan tanggung jawab semua umat manusia.

Bukit Uhud menjadi saksi keberanian seorang Ummu Ummaroh, tak gentar ia menghalau serangan demi serangan yang dilontarkan Ibnu Qumaiah pada Rasulullah dengan pedangnya. Serangan Ibnu Qumaiah pun mengenai pundak Ummu Ummaroh hingga terluka dan berdarah, namun luka demi luka yang ia alami tak berhasil meruntuhkan tekadnya untuk tetap berjuang di Perang Uhud dan melindungi Rasulullah dari serangan lawan. Kala itu banyak para tentara Muslim yang berlari meninggalkan Rasulullah, Ummu Ummaroh adalah salah satu yang tetap bertahan untuk melindungi dan membersamai Rasulullah.

“Aku melihat banyak di antara kaum Muslimin yang lari kocar-kacir dan meninggalkan Rasulullah. Hingga tinggal tersisa beberapa orang yang melindungi beliau termasuk aku, kedua anakku, sedangkan suamiku berada di depan beliau untuk melindunginya. Dan Rasulullah melihat aku tidak bersenjata, ”ungkap Ummu Ummaroh.

Rasulullah SAW pun mendoakan Ummu Ummaroh. Ketika sang mujahidah terluka, Rasulullah SAW berkata kepada putra Ummu Ummaroh, ”Ibumu! Ibumu! Balutlah lukanya. Ya Allah, jadikanlah mereka teman-temanku di surga.” Keberanian Ummu Ummaroh membuat Rasulullah SAW bangga. ”Siapakah yang sanggup melakukan seperti yang engkau lakukan, wahai Ummu Ummaroh?” ujar Rasulullah memuji.

Kisah heroik perjuangan Ummu Ummaroh tidak berhenti di Perang Uhud, setelah wafatnya Rasulullah, Ummu Ummaroh kembali ke medan perang, berjuang bersama pasukan Abu Bakar Ash-Shidiq untuk memerangi mereka yang murtad dari Islam.

BAGI
Artikel sebelumnyaEmpat Kata Tentang Muhammad Al Fatih
Artikel selanjutnyaPerdana, Nuurusshiddiiq Wisuda Dilaksanakan di Hotel
Dedi Suwandi aktif sebagai karyawan Yayasan Nuurusshiddiiq Cirebon. Hal itu diyakininya sebagai cara untuk bisa belajar lebih banyak dari orang lain. Belajar untuk sukses, tentang kesabaran, tentang perjuangan hidup, bahkan tentang hal sederhana yang kerap dilupakan orang; bersyukur. Selama lebih dari 5 thn menjalani aktifitas, memberinya pengalaman hidup yang menurutnya patut dirangkai, kemudian dibagikan kepada orang lain. Dedi, panggilan akrab pria asal Jatibarang ini, lahir di Indramayu 25 Februari 1982.

TULIS BALASAN

Tuliskan komentar!
Tuliskan nama di sini