Pesona Kematian

0
233

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Hasna berlari-lari gembira di atas jalanan kecil dengan rimbunan pohon-pohon bambu disepanjang jalan menuju kawasan pemakaman. Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es krim. Sambil sesekali mengangkat ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya.

Hasna dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum, berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk di atas seonggok nisan “Fatimah binti Muhammad 19-10-1905:20-01-1965”

“Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo’a untuk nenekmu”

Hasna melihat wajah ayahnya, lalu menirukan  tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk neneknya…

“Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya… yah.”

Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya.

“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 36 tahun ya… yah…” kata Hasna berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.

“Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun … ”

Hasna memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini : 19-02-1882 : 30-01-1910”

“Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya… yah” jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya.

Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.

“Memangnya kenapa ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.

“Hmmm, ayah kan semalam bilang, kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka” kata Hasna sambil meminta persetujuan ayahnya.

“Iya kan yah?..”Ayahnya tersenyum, “Lalu?””Iya .. kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek senang di kubur …. ya nggak yah?” Mata Hasna berbinar karena bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas …..

“Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari Pemakaman, ayah Hasna tampak gelisah diatas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya … 36 tahun … hingga sekarang …kalau kiamat datang 100 tahun lagi ….136 tahun disiksa .. atau bahagia di kubur …. Lalu ia menunduk … eneteskan air mata …

Kalau ia meninggal .. lalu banyak dosanya … lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’un … air matanya semakin banyak menetes….. Sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur ..lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah …ia semakin menunduk .. tangannya terangkat keatas..bahunya naik turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya ….. Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang kali di bacanya doa itu hingga serak suaranya … dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Hasna. Dihampirinya Hasna yang tertidur di atas dipan bambu… dibetulkannya selimutnya.

Hasna terus tertidur …tanpa tahu, betapa sang ayah sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkan .. arti sebuah kehidupan…

dan apa yang akan datang di depannya….

TULIS BALASAN

Tuliskan komentar!
Tuliskan nama di sini