Lupa Diri

0
159

Ada kalanya segala sesuatu dalam hidup kita berjalan lancar. Uang banyak, badan sehat, keluarga rukun, pekerjaan aman, perasaan tenang, hati tenteram, hari-hari menjadi serba indah, dan segalanya serba menyenangkan.

Tetapi ada masa-masa dimana kita justru dijauhkan dari kenikmatan itu. Walaupun tidak direnggut semua, namun cukup untuk membuat dada kita terasa sesak.

Saat dimanjakan oleh semua kesenangan itu kita tidak bertanya ”Ya Allah, kenapa kehidupan saya kok serba indah begini….?”

Saat sedang senang paling poll kita bilang alhamdulillah. Nggak ada menyungkur lalu menangis terisak-isak minta disayang Allah, sujud syukur pun hanya sesekali kalau kebagian rejeki nomplok.

Boro-boro bersimpuh, adzan pun sering dicuekin. Tanggung nanti saja, bentar lagi. Ujung-ujungnya sholat dilakukan saat waktunya sudah hampir habis. Nikmatnya sujud tertutupi oleh kenikmatan lain. Ibadah hanya berupa ritual, sekedar menggugurkan kewajiban.

Jangan tersinggung ya, saya tidak sedang mengkritik Anda. Melainkan menceritakan apa yang saya alami sendiri. Bahwa sebagai manusia biasa, saya masih suka terjebak oleh kenikmatan duniawi. Lupa tujuan Allah menciptakan manusia.

Jika berada dalam kapal yang hampir karam, manusia menyeru Tuhannya dengan tulus ikhlas. Tetapi ketika badai dan topan itu dibuat reda, kemudian mereka mendarat dengan selamat lupalah kepada Allah ta’ala. Demikian dilukiskan perilaku kita dalam Al-Qur’an.

Dia tahu kalau kita suka terlena oleh kenikmatan yang diberikannya. Makanya sesekali Dia kasih kesulitan dan cobaan kepada kita. Itulah cara paling efektif untuk memanggil kita agar mendekatkan?

Semoga dimampukannya kita untuk melewati fase-fase penuh kesulitan ini dan dijadikannya kita hamba yang bisa menikmati berbagai keindahan hidup sambil tetap mendekat kepadanya. Melalui rasa syukur, dan ibadah yang khusyu sesuai tuntunannya.

 

 

BAGI
Artikel sebelumnyaKecewa Pada Manusia
Artikel selanjutnyaI Like Monday
Dedi Suwandi aktif sebagai karyawan Yayasan Nuurusshiddiiq Cirebon. Hal itu diyakininya sebagai cara untuk bisa belajar lebih banyak dari orang lain. Belajar untuk sukses, tentang kesabaran, tentang perjuangan hidup, bahkan tentang hal sederhana yang kerap dilupakan orang; bersyukur. Selama lebih dari 5 thn menjalani aktifitas, memberinya pengalaman hidup yang menurutnya patut dirangkai, kemudian dibagikan kepada orang lain. Dedi, panggilan akrab pria asal Jatibarang ini, lahir di Indramayu 25 Februari 1982.

TULIS BALASAN

Tuliskan komentar!
Tuliskan nama di sini