Hitam Biru Pesantren

0
114

Puji, sebuah nama yang tak asing diterima telinga. Dengan nama lengkap Puji Lestari, seorang gadis jelita berumur 17 tahun, yang sudah 5 tahun lamanya menetap pada sebuah bangunan tua di kaki gunung Sumeru, desa ketep, kecamatan ngaglik, kabupaten Mojono.

dengan ditemani beberapa orang sebaya, sejawat, seperjuangan ia menghabiskan waktunya bersama mereka susah dan senang. Kurang lebih 100 gadis sebaya yang menetap bersamanya. Hanya dengan berteman bintang, bernaung pada sinar rembulan, dan berselimutkan angin malam ia bersama temannya menghadapai malam, tak terkecuali malam minggu yang biasa digunakan kebanyakan gadis untuk bersenang-senang dengan anu mereka.

Bangunan tua yang dihuni itu terdiri dari 10 ruang tidur berukuran 7×8 meter persegi, 1 dapur lengkap dengan perlengkapannya, 10 ruang MCK, dan 1 musholla. Dengan sangat kokoh bangunan itu berdiri tegak di atas tanah seluas 1000 m2 sejak tahun 1912 dan dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Al Ulum Sumeru.

Hari itu sabtu, 12 Juli 2012 pekerjaan puji masih seperti dulu: masak, tidur, ngobrol, dan intinya ngaji, tak lupa ia menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, gembira dengan teman-temannya meski ia dilarang untuk keluar dari area pesantren al ulum. Meski ia dilarang namun rasa senang akan keindahan ilmu tak dapat mengalahkan hasratnya untuk keluar area pesantren.

Seperti biasanya setiap tahun, pesantren al ulum mengadakan tes/imtihan/ujian kenaikan tingkat bagi santri yang menetap di pesantren. Tes dilaksanakan 2 kali dalam 1 tahun, yaitu pada bulan rabiul awal dan sya’ban. Kebetulan mulai hari jum’at, tanggal 17 agustus 2012 mendatang bertepatan dengan 1 sya’ban 1433 dan menjadi agenda besar puji untuk lebih sering belajar daripada ngobrol-ngobrol menghabiskan waktu sia-sia dengan teman-temannya. Dan sebagai persiapan untuk menghadapi ujian itu, kini mulai 01 agustus 2012 puji lebih sering menyendiri di kamar dengan ditemani 1 buah nadzoman Alfiyah Ibnu Malik, 1 paket Hadits Bukhori yang berisi 4 jilid, dan beberapa kitab penunjang pelajaran yang akan diujikan kelak.

KH. Muhsin adalah sosok yang pantas dijunjung tinggi di Sumeru dan sekitarnya. Sosok perangai yang santun, sopan, penuh hikmah dalam memutuskan masalah, dan cerdas dalam memecahkan masalah, dan akrab dengan panggilan Gus Muh. Sudah 26 tahun Gus Muh mengasuh pondok pesantren al ulum, setelah beliau menikah dengan Nyai Duriyah dari Cirebon. Tetap exist dalam berdakwah dan senantiasa menyebarkan ajaran Islam di sumeru dan sekitarnya meski Gus Muh dikaruniai 4 putra dan 3 putri. Habibullah sebagai putra pertama berumur 25 tahun, nasrun putra kedua 24 tahun dan sedang menempuh pendidikan di kairo mesir, ifa nur laili putri ketiga 23 tahun dan masih duduk di bangku Ma’had Ali S1 Sumeru jurusan tahfid Alquran, Mansur putra keempat berumur 21 tahun dan sedang menempuh studi di pondok pesantren Jombang, gozali putra kelima 18 tahun masih duduk di bangku SMA kelas 3 sekaligus menjabat Ketua IPNU Komisariat SMA Ma’arif Sumeru dan Wakil Ketua IPNU Cabang Ngaglik, fada putri keenam berumur 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA kelas XI, dan qorry putri terakhir berumur 16 tahun masih duduk di bangku SMA kelas X sekaligus belajar di pesantren salaf Al Irfan Mojotengah, dan menjabat sebagai ketua IPPNU Komisariat Pesantren Al Irfan.

TULIS BALASAN

Tuliskan komentar!
Tuliskan nama di sini