Hikayat Syaqiq Al-Balkhi Dan Ibrahim Bin Adham

0
100

Pada suatu hari Ibrahim bin Adham bertemu dengan gurunya Syaqiq al-Balkhi. Gurunya bertanya, “Wahai Ibrahim! Bagaimana sikapmu jika kamu pada suatu hari tidak menjumpai rizki?” Ibrahim bin Adham ditanya oleh gurunya seperti itu ia buru-buru menjawab, “Wahai tuan guru! Jika ada rezeki maka saya bersyukur, dan jika tidak ada rizki saya bersabar!”

Gurunya berkata, “Jika jawabannya seperti itu, maka tidak ada bedanya dengan seekor anjing yang ada di Balkhi ini, anjing pun akan berterima kasih kepada tuannya yang memberinya makan, dan jika tidak ada yang memberi memberi ia dengan sabar menunggu.”

Mendengar jawaban gurunya seperti itu, Ibrahim Bin Adham merasa kaget dan bertanya kepada Gurunya, “Terus bagaimanakah sikap yang harus dilakukan wahai Tuan Guru?” Gurunya menjawab, “Seharusnya jika kita mempunyai rizki, maka kita harus mendahulukan orang yang lebih membutuhkannya dan jika tidak ada rizki kita harus bersabar!”
Setelah dijawab, Ibrahim lalu mencium kepala Gurunya seraya berkata, “Antal Ustadz.” (Anda adalah benar-benar seorang Guru).
Keterangan: jawaban Ibrahim bin Adham tadi adalah benar untuk keadaan orang awam akan tetapi jika diterapkan untuk kalangan ahli tashowwuf yang sudah benar-benar dalam ketashowwufannya jawabannya ada lagi yang lebih tepat dari itu.

Seperti halnya seseorang yang bertanya kepada anaknya yang masuh kecil, “Untuk apakah gunanya telinga nak?” Jawaban anaknya, “Tempat menggantungkan kacamata.” Jawaban seperti itu adalah benar juga jika diterapkan untuk anak kecil.

Akan tetapi jika untuk anak yang sudah dewasa ada lagi jawaban yang lebih tepat dari itu. Demikian juga halnya pendidikan yang diberikan oleh Syaqiqi Al-Balkhi kepada Ibrahim Bin Adham tersebut yang mana Ibrahim Bin Adham dalam hal ini di anggap olehnya masih belum dewasa. Sehingga Syaqiq Al-Balkhi mengujinya dengan pertanyaan seperti tersebut di atas.

TULIS BALASAN

Tuliskan komentar!
Tuliskan nama di sini