Hikayat Orang Yang Sempurna Imannya

0
112

Di riwayatkan ada seorang Shohabat Nabi saw yang diberi hadiah kepala kambing yang sudah dimasak. Shohabat tersebut kemudian berkata didalam hatinya, “Sepertinya saudaraku dan keluarganya lebih membutuhkan masakan ini dari pada saya.” Maka kemudian kepala kambing pun dikirimkan kepada saudaranya.

Saudaranya itu juga berfikir seperti dirinya juga. Lalu kepala kambing dikirimkan lagi kepada saudaranya yang lain. Terus dikirimkan lagi, dikirimkan lagi sampai tujuh keluarga, yang pada akhirnya kepala kambing itu berputarr kembali lagi kepada orang yang pertama kali mengirimkannya.

Sebab terjadinya peristiwa seperti itu adalah karena fikiran mereka satu sama lainnya adalah sama, yakni mendahulukan kebutuhan orang lain atas dirinya. Sehingga manakala ada diantara mereka yang mendapatkan suatu kenikmatan, maka mereka berfikir, “Siapa tahu si fulan …. lebih membutuhkan dari pada saya.” Alangkah indahnya jika saja pola pikir semacam ini diterapkan di dalam kehidupan kita sekarang ini. Karena ummat yang kokoh dan besar adalah mereka yang satu sama lainnya peduli dengan penderitaan saudaranya yang lain. Bukankah Nabi saw telah bersabda bahwa keadaan umat Islam adalah ibarat satu jasad. Maka dengan kejadian ini, turunlah ayat Al-Qur’an:”Mereka saling mendahulukan saudaranya dan mengakhirkan diri mereka dalam keadaan susah dan butuh.”

Menurut sebagian riwayat, turunnya ayat tadi adalah ketika ada tamu datang kepada Rosul saw, ketika itu Rosul memerintahkan kepada istri-istrinya, “Siapa diantara kalian yang memiliki makanan untuk menghormati tamu?” Para istri Rosul menjawab, “Kami tidak memiliki makanan ya Rosul, kami hanya memiliki air saja”.

Rosul kemudian bersabda kepada yang hadir dalam majelis itu, “Siapakah yang pada malam ini akan menjamu tamuku maka ia akan dibalas dengan surga?” Di antara shohabat Nabi yang hadir di majelis itu ada yang mengacungkan tangan seraya berkata, “Saya ya Rosul yang akan menjamu tamu tuan.” Kemudian tamu pun di bawa kerumahnya.

Dijelaskannya kepada istrinya bahwa orang yang bersamanya adalah tamu Rosululloh saw, oleh karenanya tamu ini harus dihormati sebisanya. Istrinya kemudian berkata kepada suaminya, “Wahai suamiku! Kebetulan sekali di rumah tidak ada apa-apa, hanya ada jatah makanan bagi anak-anak untuk dimakan sore ini!” Suaminya berkata, “Ya sudah cepat dihidangkan seadanya, bila mana nanti tamu akan makan lampunya di matikan, biarkan anak-anak ketika waktu makan sore tiba di suruh tidur saja!” Istrinya menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya, dirinya pura-pura berdiri mau membetulkan lampu, padahal ia memadamkan lampu tersebut dan dikatakannya kehabisan minyak, yang mana tujuannya adalah tamu agar tidak mengetahui keadaan tuan rumah bahwa sebenarnya mereka itu tidak makan, karena makanan yang ada hanya satu porsi yang ada di depan tamu saja.  Tuan rumah hanya ikut duduk bareng bersama tamu dengan menghadapi piring kosong dan berpura-pura menyantap hidangan bersamanya.

Makan malam pun selesai, tamu dipersilahkan untuk beristirahat dan tuan rumahpun beristirahat dengan perut kosong alias lapar. Keesokan harinya mereka menemui Rosululloh saw. Rosul kemudian bersabda, “Allah swt meridloi dengan apa yang kalian telah kerjakan!” Disinilah kemudian turun ayat yang tersebut di atas.

TULIS BALASAN

Tuliskan komentar!
Tuliskan nama di sini