Hikayat Orang Yang Akan Lapor Ke Sayyidina Umar Bin Khattab

0
112

Diriwayatkan ada seseorang lelaki yang akan laporan kepada Sayyidina Umar bin Khattab ra tentang keburukan akhlaq istrinya agar diluruskan dan diberi nasehat olehnya. Ia berdiri di dekat pintu rumah Sayyidina Umar untuk menunggu beliau keluar dari rumahnya. Ketika sedang menunggu, tiba-tiba ia mendengar istri sayyidina Umar sedang mengomeli suaminya, sedangkan Sayyidina Umar mendengarkannya dengan biasa-biasa saja.

Akhirnya orang yang mau lapor pergi meningalkan tempat itu seraya berkata dalam hatinya, “Jika keadaan Amirul mu’minin saja seperti itu, maka bagaimana dengan keadaanku?” Ketika orang itu pergi, kebetulan sayyidina Umar keluar dari rumahnya dan beliau melihat ada seseorang yang pergi meninggalkan halaman rumahnya.

Sayyidina Umar lalu memanggil orang tersebut. Merasa dipanggil akhirnya orang itu mendatangi sayyidin Umar. Selanjutnya ditanya, “Hai saudaraku! Ada keperluan apa Anda datang kesini?” Lelaki itu menjawab, “Maksudnya mau laporan tentang keadaan istri saya yang suka ngomel saja, akan tetapi dengan tidak sengaja saya mendengar istri tuan juga sedang mengomel sama seperti istri saya, ya langsung saja saya tidak jadi lapor dan memilih untuk kembali pulang, karena ternyata istri Amirul mu’minin juga seperti itu, apalagi istri seorang seperti saya!”

Sayyidina Umar lalu berkata, “Iya betul sekali seperti itu! Akan tetapi kita mesti mengerti keadaan istri kita masing-masing, karena banyak sekali hak-hak yang ditanggung oleh seorang istri padahal hak itu mestinya adalah kewajiban seorang suami. Misalnya: Memasak, mencuci pakaian, menyusui anak, juga seorang istri itu adalah yang menjadikan ketentraman hati kita dari sesuatu yang di haramkan.”

Lelaki itu kemudian berkata, “Wahai Amirul Mu’minin! Betul sekali keadaan istri saya juga seperti itu.” Sayyidina Umar, “Iya kalau istri sedang marah dibiarkan saja, nanti juga tidak lama akan berhenti sendiri!”

Keterangan:
Cerita ini tidak boleh digunakan untuk hujjah pihak istri untuk seenaknya saja memaki dan membicarakan kekurangan pihak suami, sebab akan dapat menghilangkan amal baik istri yang diperbuatnya selama mengabdi kepada suami. Sehingga ia tidak akan bertemu dengan nikmat ganjarannya di akherat kelak, karena tertutup dengan dosa menyakiti hati suaminya.

TULIS BALASAN

Tuliskan komentar!
Tuliskan nama di sini