Dalam Sebulan Sholat Berapa Kali?

0
61

Judul diatas untuk menggambarkan kondisi awal-awal beberapa orang yang baru bergabung menjadi Relawan Pencinta Alam. Ya, celana pendek bolong-bolong, rambut gondrong, wajah kusam, kumel, dan segala gambaran yang mencirikan bahwa mereka mengaku “anak gunung”. Meski saya yakin, tidak semua anak gunung harus memiliki penampilan seperti mereka. Seringkali saya lihat anak gunung penampilannya rapih.

Sebagai anak gunung mereka terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari dengan berpenampilan semau sendiri, begadang sampai tengah malam bahkan kalau berangkat tidur jam 11 malam mereka bilang “masih sore”. Alhasil sudah bisa ditebak, sholat subuhnya jadi berebut finish dengan sholat dhuha. Parahnya, bisa langsung sholat dzuhur, atau bahkan tidak sholat sama sekali.

Itu dulu, kalau saat ini tidak jarang saya melihat mereka berdiri di shaf depan ketika sholat dzuhur, ashar, maghrib maupun isya. Sementara subuh, sudah tidak ada lagi cerita “sulit membedakan antara subuh dengan dhuha”, sebelum adzan mereka sudah harus berada di masjid atau musholla untuk sholat subuh berjamaah. Mereka berkomitmen menjadi Pejuang Subuh agar terus bisa menjadi pribadi yang baik.

Kalaupun dulu pertanyaannya, “dalam sebulan sholat berapa kali?”, saat ini pertanyaannya sudah dirubah. Kira-kira “dalam sebulan tidak sholat berapa kali?”. Dan suatu saat nanti pertanyaannya akan dirubah lagi menjadi “dalam sebulan tidak sholat berjamaah berapa kali?”.

Proses, berproses agar kelak, di kehidupan mendatang bisa dimasukkan dalam golongan orang-orang yang beruntung. Aamiin ya Allah.

 

BAGI
Artikel sebelumnyaSelamat Idul Fitri 1438 H
Artikel selanjutnyaNuurusshiddiiq Apaan Sih?
Dedi Suwandi aktif sebagai karyawan Yayasan Nuurusshiddiiq Cirebon. Hal itu diyakininya sebagai cara untuk bisa belajar lebih banyak dari orang lain. Belajar untuk sukses, tentang kesabaran, tentang perjuangan hidup, bahkan tentang hal sederhana yang kerap dilupakan orang; bersyukur. Selama lebih dari 5 thn menjalani aktifitas, memberinya pengalaman hidup yang menurutnya patut dirangkai, kemudian dibagikan kepada orang lain. Dedi, panggilan akrab pria asal Jatibarang ini, lahir di Indramayu 25 Februari 1982.

TULIS BALASAN

Tuliskan komentar!
Tuliskan nama di sini