Amplop Yang Berisi

0
187

Memberi dan menerima amplop merupakan budaya yang menyenangkan. Tengok misalnya pada saat lebaran, atau kondangan. Suasana jadi makin seru, kalau ada amplop yang dipindahtangankan. Tapi apa sih yang kita sukai dari sebuah amplop? Isinya. Pasti. Kita tidak akan mau menerima amplop kosongan kan?

Jika nilai sebuah amplop ditentukan oleh isinya, maka nilai seorang manusia juga demikian. Dalam konteks profesionalitas, isi itu bisa berupa pengetahuan maupun kemampuan kerja. Amplop mungkin memang penting, tapi isinya jauh lebih penting. Penampilan mungkin memang penting, tapi pengetahuan dan kemampuan kerja jauh lebih penting lagi.

Ijazah adalah amplop. Seseorang boleh membangga-banggakan ijazah dari perguruan tinggi top, tapi kalau nggak bisa diandalkan dalam pekerjaan, ya nggak ada gunanya ijazah itu.

Jabatan juga amplop. Seseorang kan bisa saja menduduki jabatan yang tinggi, bangga kalau tukeran kartu nama. Tapi kalau orang itu nggak ada isinya, oleh anak buahnya pun dia diremehkan, nggak dianggap bahkan.

Menurut pendapat kita, mengapa banyak atasan yang tidak mampu memimpin anak buahnya? Antara lain karena amplopnya yang berwujud jabatan itu tidak diimbangi dengan isi yang menjadikannya layak menduduki jabatan itu.

Makanya sebelum kebelet kepengen banget naik jabatan, kita mesti terlebih dahulu mengumpulkan isinya. Jangan kebalik, dapat jabatannya dulu tapi kompetensi belum dimiliki. Harusnya miliki dulu kompetensinya baru duduki kursinya.

Dengan demikian, kita bisa mendapatkan penerimaan dari orang lain. Welcome mereka kepada kita, bukan karena label, simbol, atau penampakan. Melainkan respek yang lahir dari sebuah pengakuan bahwa kita layak menerima kepercayaan yang perusahaan berikan.

 

BAGI
Artikel sebelumnyaPesona Kematian
Artikel selanjutnyaKecewa Pada Manusia
Dedi Suwandi aktif sebagai karyawan Yayasan Nuurusshiddiiq Cirebon. Hal itu diyakininya sebagai cara untuk bisa belajar lebih banyak dari orang lain. Belajar untuk sukses, tentang kesabaran, tentang perjuangan hidup, bahkan tentang hal sederhana yang kerap dilupakan orang; bersyukur. Selama lebih dari 5 thn menjalani aktifitas, memberinya pengalaman hidup yang menurutnya patut dirangkai, kemudian dibagikan kepada orang lain. Dedi, panggilan akrab pria asal Jatibarang ini, lahir di Indramayu 25 Februari 1982.

TULIS BALASAN

Tuliskan komentar!
Tuliskan nama di sini